PENGARUH PERGAULAN DAN LINGKUNGAN TERHADAP KARAKTER REMAJA
Kelompok 1
Revalina Dwi Cahyani, Layla Rachmad, Dimas Sagita Dwi Purnomo
ABSTRAK
Pergaulan dan lingkungan merupakan faktor penting yang memengaruhi pembentukan karakter remaja. Masa remaja adalah masa pencarian jati diri, sehingga remaja mudah terpengaruh oleh lingkungan keluarga, sekolah, serta teman sebaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pergaulan dan lingkungan terhadap karakter remaja. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi dan angket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pergaulan dan lingkungan yang positif dapat membentuk karakter remaja yang baik, seperti disiplin, tanggung jawab, dan sopan santun. Sebaliknya, pergaulan dan lingkungan yang kurang baik dapat berdampak negatif terhadap perilaku dan sikap remaja. Oleh karena itu, diperlukan peran keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pembentukan karakter remaja yang positif.
Kata kunci: pergaulan, lingkungan, karakter remaja
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Remaja adalah masa di mana individu mengalami perubahan fisik, emosional, dan sosial yang signifikan, dan interaksi dengan teman sebaya memainkan peran penting dalam pembentukan identitas.(Sarlito Wirawan Sarwono. (2010). Psikologi Remaja. Rajawali Pers, hlm. 45). Pada tahap ini, remaja mulai mencari jati diri merka melalui pengalaman sehari-hari, termasuk pergaulan dengan teman sebaya. Perkembangan remaja melibatkan transformasi biologis dan psikologis yang mempengaruhi cara mereka berinteraksi dengan lingkungan. (Sudarsono. (2015). Pendidikan Karakter: Konsep dan Implementasi. PT RajaGrafindo Persada, hlm. 50).
Di SMP Negeri 1 Jatiroto, beberapa remaja menghadapi tantangan unik dalam pergaulan dan lingkungan sosialnya. Seperti, pergaulan bebas yang dapat menyebabkan penyimpangan perilaku yang tidak sesuai umur, pengaruh negatif dari teman sebaya yang mendorong pelanggaran terhadap aturan sekolah, serta kecanduan gadget dan media sosial yang menurunkan fokus belajar dan motivasi akademik siswa dan siswi. Selain itu, kebiasaan meniru perilaku tidak baik, seperti berkata kasar, bolos sekolah, dan bersikap tidak sopan terhadap guru maupun orang tua, juga menjadi permasalahan yang kerap muncul. Dan sebagian remaja terjerumus pada penyalahgunaan zat berbahaya seperti minuman keras dan obat-obatan terlarang yang dapat merusak kesehatan fisik maupun mental remaja. Pergauln dengan teman sebaya dapat membentuk nilai-nilai positif atau negatif, tergantung pada kelompok yang dipilih dan pola pikir remaja tersebut. Pergaulan remaja sering kali dipengaruhi oleh norma kelompok, yang dapat memperkuat atau melemahkan karakter individu. (Sarlito Wirawan Sarwono. (2010). Psikologi Remaja. Rajawali Pers, hlm. 60).
Penelitian ini berfokus pada pengaruh teman sebaya terhadap karakter remaja, khususnya kedisiplinan, tanggung jawab, dan motivasi belajar. Pergaulan dengan teman sebaya dapat membentuk perilaku positif seperti kedisiplinan dan tanggung jawab, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak negatif seperti penurunan motivasi belajar jika kelompok teman tidak mendukung nilai-nilai baik. (Sudarsono. (2015). Pendidikan Karakter: Konsep dan Implementasi. PT RajaGrafindo Persadahlm. 78).
Dari pengamatan awal, siswa yang bergaul dengan teman yang rajin cenderung lebih termotivasi, sedangkan yang bergaul dengan kelompok kurang disiplin cenderung mengalami penurunan performa dan ikut terbawa arus menjadi tidak dispilin. Karakter remaja yang baik akan membentuk generasi masa depan yang berkualitas. (Kementerian Kesehatan RI. (2019). Pedoman Kesehatan Remaja, hlm. 25).
Berdasarkan latar belakang di atas maka tim kami melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Pergaulan Dan Lingkungan Terhadap Karakter Remaja”. Pendidikan karakter di sekolah harus memperhatikan faktor pergaulan untuk mencapai hasil yang optimal.(Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. (2020). Panduan Pengembangan Karakter Siswa, hlm. 30). Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan bagi guru, siswa/i, dan orang tua dalam mendukung perkembangan remaja yang positif dan menaati peraturan peraturan yang ada di sekolah.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas penelitian ini rumusan masalah pada hubungan antara lingkungan pertemanan dan sikap disiplin remaja di SMP Negeri 1 Jatiroto, yaitu:
1. Apakah teman sebaya mempengaruhi disiplin remaja di SMP Negeri 1 Jatiroto?
2. Seberapa besar pengaruh pergaulan dengan teman sebaya terhadap kedisiplinan remaja di SMP Negeri 1 Jatiroto?
3. Faktor-faktor apa saja dalam pergaulan dan lingkungan yang mempengaruhi pembentukan karakter remaja di SMP Negeri 1 Jatiroto?
4. Bagaimana cara meningkatkan pengaruh positif teman sebaya terhadap karakter remaja?
5. Apakah ada perbedaan pengaruh pergaulan antara siswa laki-laki dan perempuan di SMP Negeri 1 Jatiroto?
6. bagaimana bentuk-bentuk pergaulan yang dominan mempengaruhi karakter positif remaja?
C. Tujuan Penelitian
1. Mengidentifikasi apakah teman sebaya mempengaruhi sikap disiplin remaja
2. Mengukur besarnya pengaruh teman sebaya terhadap kedisiplinan remaja
3. Mengidentifikasi faktor-faktor dalam pergaulan dan lingkungan yang berkontribusi pada pembentukan karakter remaja
4. Menyusun strategi untuk meningkatkan pengaruh positif teman sebaya terhadap karakter remaja
5. Menganalisis perbedaan pengaruh pergaulan berdasarkan gender siswa.
6. Mengidentifikasi bentuk-bentuk pergaulan yang dominan mempengaruhi karakter positif remaja
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis (Akademik)
Menambah khazanah ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang psikologi perkembangan remaja dan sosiologi pendidikan, yang berfokus pada dinamika pergaulan dan lingkungan.
Dapat dijadikan sebagai dasar atau referensi awal bagi penelitian-penelitian selanjutnya yang mengambil topik serupa di lingkungan sekolah menengah pertama.
2. Manfaat Praktis
Bagi Remaja: Memberikan kesadaran diri mengenai pentingnya memilih pergaulan dan lingkungan yang konstruktif untuk pengembangan karakter positif.
Bagi Sekolah (SMP Negeri 1 Jatiroto): Memberikan data dan informasi yang akurat sebagai bahan pertimbangan dalam merancang program Bimbingan dan Konseling (BK) serta kegiatan kesiswaan yang berfokus pada pembentukan karakter.
Bagi Keluarga/Orang Tua: Memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai faktor-faktor eksternal yang memengaruhi anak remaja mereka, sehingga dapat meningkatkan pengawasan dan komunikasi.
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Karakter
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan bahwasanya karakter merupakan hal yang berkaitan dengan tabiat, sifat-sifat, kejiwaan, akhlak, atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang lainnya. Karakter merujuk pada kualitas moral atau etis yang melekat pada individu, yang memengaruhi cara ia berpikir dan bertindak.
Marzuki, M. (2012). Pengintegrasian pendidikan karakter dalam pembelajaran di sekolah. Jurnal Pendidikan Karakter, 20. Menjelaskan bahwa karakter identik dengan kepribadian atau akhlak. Kepribadian merupakan ciri-ciri khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan.
Sudarsono, A., & Sudrajat, S. W. (2016). Implementasi Pendidikan Karakter di Smp Negeri 2 Klaten Dan Mts. Wahid Hasyim Yogyakarta. JIPSINDO, 3(1). Menjelaskan bahwa karakter merupakan seperangkat nilai dan perilaku yang terbentuk dari proses internalisasi nilai-nilai kebajikan yang digunakan sebagai landasan untuk berinteraksi dengan lingkungan.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. (2020). Panduan Pengembangan Karakter Siswa. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Melalui Panduan Pengembangan Karakter Siswa, menjelaskan bahwa karakter adalah nilai-nilai luhur yang mendasari perilaku, yang tertuang dalam lima nilai utama: religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas.
B. Pergaulan Remaja (Teman Sebaya)
1. Definisi Pergaulan Remaja
Pergaulan remaja secara umum adalah proses interaksi sosial yang dilakukan oleh individu dengan individu lain pada fase remaja yang berada dalam rentang usia dan tingkat perkembangan yang relatif sama (sebaya).
Pergaulan ini merupakan sarana sosialisasi non formal yang sangat berpengaruh, di mana remaja mencari rasa memiliki, penerimaan, dan nilai-nilai acuan di luar lingkungan keluarga. Pergaulan sebaya menjadi media bagi remaja untuk mengembangkan keterampilan sosial dan menentukan norma-norma perilaku yang akan mereka ikuti kedepannya.
Menurut Kurniawan, Y., & Sudrajat, A. (2018), dalam artikel Peran teman sebaya dalam pembentukan karakter siswa Madrasah Tsanawiyah (SOCIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial, 15(2), 149–163), menjelaskan bahwa pergaulan sebaya adalah kelompok rujukan utama di mana remaja belajar membandingkan diri, memperoleh dukungan emosional, dan mengembangkan keterampilan sosial, yang pada akhirnya sangat memengaruhi norma perilaku kelompok.
Menurut Tianingrum, N. A., & Nurjannah, U. (2020) melalui Pengaruh Teman Sebaya Terhadap Perilaku Kenakalan Remaja Sekolah Di Samarinda (Jurnal Dunia Kesmas, 8(4), 275–282), mendefinisikan pergaulan sebaya sebagai interaksi sosial yang memiliki daya tarik kuat, sering kali mengalahkan pengaruh orang tua, dan menjadi sumber rujukan utama bagi remaja dalam membuat keputusan terkait gaya hidup dan perilaku.
2. Peran dan Pengaruh Kelompok Sebaya
Kelompok sebaya (peer group) berperan sebagai agen sosialisasi non-formal yang sangat kuat. Pengaruh pergaulan dengan teman sebaya dapat membentuk nilai-nilai positif atau negatif, tergantung pada pola pikir remaja dan norma yang dianut kelompok tersebut (Sarlito Wirawan Sarwono, Psikologi Remaja, 2010).
C. Lingkungan
1. Definisi Lingkungan
Secara umum, lingkungan adalah segala faktor eksternal di luar diri individu yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi proses pertumbuhan, perkembangan, dan pembentukan karakter remaja. Lingkungan menyediakan struktur, aturan, dan model perilaku yang diterima oleh remaja.
Sudarsono, A., & Sudrajat, S. W. (2016) dalam Implementasi Pendidikan Karakter di Smp Negeri 2 Klaten Dan Mts. Wahid Hasyim Yogyakarta (JIPSINDO, 3(1), 50–65), mengemukakan bahwa lingkungan adalah segala kondisi, situasi, dan unsur-unsur di luar individu yang secara langsung atau tidak langsung memengaruhi proses pembentukan kepribadian, termasuk interaksi di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Darmawan, S. (2018) dalam Pendidikan karakter remaja berbasis lingkungan (Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 24(1), 101–114), memperjelas bahwa lingkungan adalah totalitas dari lingkungan fisik (sarana prasarana), lingkungan sosial (norma dan interaksi), dan lingkungan budaya tempat remaja berinteraksi, yang secara keseluruhan membentuk nilai dan kebiasaan mereka.
2. Pengaruh Lingkungan Sekolah dan Masyarakat
Lingkungan sekolah dan masyarakat berperan sebagai perantara sosialisasi formal dan informal yang menyediakan lingkup untuk penerapan dan penguatan karakter remaja.
Lingkungan sekolah yang terstruktur memiliki pengaruh besar melalui sistem dan kebijakan yang ditetapkan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI (2020), dalam Panduan Pengembangan Karakter Siswa (Dokumen Resmi), menegaskan bahwa lingkungan sekolah yang kondusif (melalui tata tertib, kegiatan ekstrakurikuler, dan keteladanan guru) akan sangat memengaruhi pembentukan karakter disiplin, tanggung jawab, dan integritas siswa.
Contoh lingkungan sekolah yang ideal bagi pertumbuhan karakter siswa dan siswi berupa: Tata tertib yang jelas dan konsisten, agar siswa dan siswi terbiasa mematuhi aturan dan bertanggung jawab atas perilakunya. Kedua kegiatan ekstrakurikuler yang variatif, seperti organisasi siswa, olahraga, kesenian, dll. Yang membantu siswa belajar bekerja sama, menjadi pemimpin yang baik, dan bisa memanajemen waktu. Ketiga keteladanan guru dan tenaga pendidik, yang menunjukkan sikap disiplin, dan berintegritas, sehingga siswa memiliki figur positif untuk ditiru.
Selain itu, pergaulan dengan teman sebaya juga memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan karakter siswa. Menurut Santrock (2011) dalam Adolescence, kelompok sebaya menjadi salah satu agen sosialisasi utama bagi remaja. Lingkungan pertemanan yang positif dapat mendorong siswa untuk berperilaku disiplin, termotivasi belajar, dan memiliki etika sosial yang baik. Sebaliknya, kelompok pertemanan yang negatif dapat memicu kenakalan remaja, menurunnya motivasi belajar, atau pelanggaran tata tertib.
Lingkungan masyarakat yang kondusif menjadi tempat remaja mengaplikasikan nilai-nilai yang telah dipelajari. Sudarsono, A., & Sudrajat, S. W. (2016) dalam JIPSINDO, 3(1), 50–65, menyatakan bahwa adanya kontrol sosial dan norma-norma yang jelas di masyarakat dapat berfungsi sebagai filter terhadap perilaku negatif yang mungkin didorong oleh pergaulan sebaya, sehingga mendukung penguatan karakter yang baik.
Contoh lingkungan masyarakat yang ideal bagi pertumbuhan karakter siswa dan sisiwi berupa lingkungan yang aman, tertib, dan menjunjung tinggi nilai kebersamaan, di mana norma kesopanan, gotong royong, dan saling menghormati diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga remaja dapat mempraktikkan nilai moral yang mereka pelajari. Ki Hadjar Dewantara dalam Pendidikan (1962) menegaskan bahwa masyarakat harus menjadi taman tempat anak memperoleh bimbingan dan keteladanan,sehingga kontrol sosial yang positif melalui tokoh masyarakat, tetangga, atau lembaga kemasyarakatan mampu mengarahkan perilaku remaja ketika mereka menghadapi pengaruh negatif dari pergaulan sebaya.
Dukungan lingkungan sosial yang sehat akan memperkuat pembentukan karakter moral dan sosial pada remaja. Dengan adanya dukungan tersebut serta lingkungan yang bebas dari kekerasan, kenakalan remaja, dan penyalahgunaan narkoba, siswa dapat tumbuh menjadi individu yang berintegritas dan mampu berkontribusi positif bagi masyarakatnya. Zuchdi, D. (2009) dalam Pendidikan Karakter: Konsep Dasar dan Implementasi
D. Penelitian Terdahulu
Pada bagian ini kami akan menyertakan hasil penelitian yang berkaitan dengan judul penelitian kami. Dengan tujuan untuk menjaga keaslian penelitian yang dilakukan oleh kami, diantaranya sebagai berikut:
Karya Tulis Ilmiah Yemima Melinda Barus, Pengaruh Lingkungan Pergaulan Terhadap Pembentukan Karakter Remaja. Penelitian ini menggunakan metode Kuantitatif dan teknik pengumpulan data berupa angket langsung yang dibagikan kepada siswa/i SMA Negeri 2 Binjai. Sarana tersebut diisi secara manual oleh siswa/i dan digunakan untuk mengetahui sejauh mana pergaulan memengaruhi karakter siswa. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa lingkungan pergaulan memiliki pengaruh signifikan terhadap pembentukan karakter. Lingkungan yang baik mendorong perilaku positif, sementara lingkungan yang buruk menyebabkan turunnya moral dan kedisiplinan.
Penelitian kami tidak hanya meneliti pengaruh pergaulan secara umum, tetapi juga menekankan pengaruh pergaulan terhadap kedisiplinan, tanggung jawab, dan motivasi belajar siswa di SMP Negeri 1 Jatiroto. Selain itu, penelitian ini juga mengkaji perbedaan pengaruh pergaulan berdasarkan jenis kelamin serta mengidentifikasi bentuk pergaulan yang paling dominan mempengaruhi karakter positif, sehingga ruang lingkup penelitian lebih luas dan lebih detail dibanding penelitian terdahulu.
Perbedaan yang lain terletak pada sarana penelitian. Jika peneliti terdahulu menggunakan angket manual, penelitian kami menggunakan kuesioner digital melalui Google Form. Penggunaan Google Form membuat pengumpulan data lebih efisien, memungkinkan jangkauan responden yang lebih luas, serta mempermudah proses rekap dan analisis data karena hasil langsung terdokumentasi secara otomatis. Dengan demikian, penelitian ini lebih modern dalam hal teknik pengumpulan data dan lebih akurat dalam pengolahan informasi.
Secara keseluruhan, penelitian kami memperluas temuan penelitian terdahulu dengan menambahkan faktor faktor baru, menganalisis aspek yang lebih spesifik, serta menggunakan teknologi yang lebih efektif dalam mengumpulkan data. Hal ini membuat penelitian kami lebih menyeluruh dan relevan.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan metode atau jenis penelitian angket (Kuesioner) yang disebarkan secara online.
Menurut Kerlinger (1973)), penelitian kuantitatif adalah suatu cara untuk menguji teori secara objektif dengan cara menyelidiki hubungan antar variabel. Penelitian ini melibatkan pengukuran variabel menggunakan instrumen statistik dan menghasilkan data berupa angka. Metode ini dipakai untuk meneliti sampel dari populasi yang sudah ditentukan.
Metode penelitian deskriptif adalah metode yang digunakan untuk memaparkan status sekelompok subjek, suatu kondisi, atau peristiwa yang terjadi saat ini. Metode ini berfungsi untuk menggambarkan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fenomena Hubungan Pergaulan dan Lingkungan Terhadap Karakter Remaja yang diamati.
Pengambilan data penelitian ini hanya menggunakan kuesioner daring (Google Form). Pendekatan kuantitatif digunakan kami bertujuan untuk mengukur dan mengidentifikasi besaran Pengaruh Pergaulan dan Lingkungan Terhadap Karakter Remaja.
1. Teknik Pengambilan Data dan Waktu Pelaksanaannya
Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data tunggal dan dilaksanakan pada jadwal berikut:
a) Angket/Kuesioner (Google Form)
Kuesioner disebar secara online menggunakan Google Form kepada 375 responden. Alat ini berisi pertanyaan dengan pilihan jawaban bertingkat untuk mengukur variabel Pergaulan, Lingkungan, dan Karakter Remaja.
b) Waktu Pelaksanaan
Pengambilan data melalui penyebaran instrumen Google Form dilaksanakan pada hari Selasa tanggal18 November 2025
2. Populasi dan Sampel Penelitian
a) Populasi Penelitian
Populasi dalam penelitian ini mencakup seluruh siswa aktif di tingkat Kelas VII, VIII, dan IX yang terdaftar di SMP Negeri 1 Jatiroto pada tahun ajaran berlangsung. Populasi ini terdiri dari seluruh kelas:
Kelas VII : Kelas 7A hingga 7H
Kelas VIII : Kelas 8A hingga 8H
Kelas IX : Kelas 9A hingga 9H
b) Sampel Penelitian
Jenis pengambilan sampel yang digunakan adalah Sampling Jenuh (Total Quota Sampling). Teknik ini dipilih karena peneliti berupaya menjangkau seluruh siswa dari kelas 7A sampai 9H untuk mendapatkan data yang representatif.
Sampel yang digunakan dalam analisis data akhir berjumlah 374 siswa, yang merupakan responden yang telah mengisi instrumen kuesioner (Google Form) secara lengkap dan valid.
3. Sumber Data Nama Responden
a) Menurut Cindy Nur Aini ”Tidak ikut ikutan ketika teman mengajak melakukan hal yang tidak baik, dan anak tersebut harus bisa membedakan mana yang baik dan buruk untuk dilakukan.”
b) Menurut Allyandra Febri Ashmita ”Untuk terhindar dari pengaruh pergaulan buruk, remaja perlu memperkuat fondasi diri dengan memiliki pendirian kuat, mendekatkan diri pada agama dan nilai moral, serta menjaga komunikasi terbuka dengan keluarga.”
c) Menurut Galuh Trihabsari ”menghindari hal-hal yang dampak buruk bagi masa depan kita dan menolak ajakan yang berdampak buruk bagi kita.”
d) Menurut Mutiyatus Shohibah ”Waspada, apa bila diajak harus menolak dengan alasan yang bisa di percaya dan harus menghindari ajakan tersebut (yang terlarang).”
e) Menurut Rafika Cahya ”Untuk terhindar dari pengaruh pergaulan buruk, remaja perlu memiliki pendirian kuat, memilih teman yang baik, dan mengisi waktu dengan kegiatan positif seperti olahraga, seni, atau organisasi.
f) Menurut Bhisma Putera Hendrianto ”cukup sederhana, kalian harus menjaga pergaulan kalian dengan cara kalian harus tau mana teman yang baik dan teman yang buruk jika kalian berteman dengan teman yang baik maka kalian jika di ajak melakukan hal buruk tidak akan mau karena hal buruk bisa berdampak negatif kepada kalian maka jagalah pergaulan kalian.”
g) Menurut Nur Hafizatul Khoiriyah ”Harus bisa membedakan teman yang baik dan teman yang memberi pengaruh buruk, tidak mudah terpengaruh pergaulan yang salah. Selalu meminta pendapat orang tua.”
h) Menurut Mardhatillah Qoonita Ahmad ”memilih teman secara bijak, berani menolak hal negatif, mengisi waktu dengan kegiatan positif, serta menjaga komunikasi terbuka dengan keluarga.”
i) Menurut Mochamad Ibnu Faizal ”Tingkatkan keimanan dan moral, bangun karakter positif, tetapkan tujuan hidup, perbanyak kegiatan positif, dan awasi diri dan lingkungan.”
j) Menurut Muhammad Hazel Erlangga ”Semua tindakan tergantung pada diri kita masing-masing. Pilih bergaul dengan anak-anak yang baik dan hindari ajakan yang mengarah pada keburukan.”
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Hasil Penelitian
Soal Ya Sering Kadang Tidak
1 Saya pernah diajak teman melakukan hal tidak baik 8.8% 3.5% 30.1% 57.6%
2 Saya tahu pergaulan bebas dapat berdampak buruk bagi masa depan 91.5% 0,8% 2.9% 3.7%
3 Saya sering ikut-ikutan teman meskipun itu melanggar aturan 1.6% 0.3% 21.1% 75.4%
4 Saya merasa sulit untuk menolak ajakan teman untuk hal yang salah 9.9% 4% 17,3% 68.8%
5 Saya sering menggunakan handphone untuk hiburan daripada belajar 11.8% 11.2% 54% 23%
6 Media sosial membuat saya malas belajar 22.2% 7% 30.7% 40.1%
7 Saya pernah bolos karena diajak teman 1.6% 1.1% 0.3% 97.1%
8 Saya berusaha menaati semua peraturan sekolah 91.7% 6.1% 1.6% 0.5%
9 Saya pernah diajak mencoba minuman keras atau obat-obatan terlarang 1.6% 0% 0.3% 98.1%
10 Saya tahu bahwa minuman keras dan obat-obatan terlarang berbahaya bagi kesehatan 96.3% 0.8% 0% 2.9%
Catatan:
Data menunjukkan bahwa pengaruh pergaulan bebas terhadap siswa tergolong rendah. Mayoritas responden memberikan jawaban Kadang dan Tidak, yang berarti mereka tidak mudah terpengaruh ajakan negatif dari lingkungan sekitar.
Beberapa poin penting:
a. Pengaruh teman sebaya rendah
Hanya 12.3% siswa yang pernah diajak melakukan hal tidak baik. Mayoritas (87.7%) mengaku tidak terpengaruh ajakan teman. Sebanyak 96.5% siswa menolak ikut-ikutan teman dalam perilaku merugikan.
b. Kemampuan menolak ajakan negatif cukup baik
Hanya 13.9% yang merasa kesulitan menolak ajakan yang salah. Sementara 86.1% mampu menolak tekanan sosial.
c. Pengaruh media sosial cukup terasa
Sebanyak 33.9% merasa media sosial membuat mereka malas belajar. Ini menunjukkan bahwa pengaruh digital lebih besar daripada pengaruh pergaulan langsung.
d. Perilaku negatif sangat rendah
Hanya 2.7% pernah bolos karena diajak teman. Yang pernah diajak mencoba alkohol/narkoba hanya 1.6%.
e. Pengetahuan siswa sangat baik
Sebesar 96.5% tahu dampak buruk pergaulan bebas, 96.3% mengetahui bahaya alkohol dan narkoba. Artinya, edukasi yang diterima siswa membantu mencegah perilaku berisiko.
1. Saya pernah diajak teman melakukan hal yang tidak baik.
Hasil data:
57,6% menjawab Tidak
30,1% menjawab Kadang-kadang
8,8% menjawab Ya
3,5% menjawab Sering
Catatan Analisis:
Data menunjukkan bahwa sebagian besar siswa (57,6%) belum pernah diajak teman untuk melakukan tindakan yang bersifat negatif. Namun demikian, angka 30,1% yang menjawab Kadang-kadang menunjukkan bahwa hampir sepertiga siswa pernah mengalami ajakan tersebut walaupun tidak secara intens. Ini mengindikasikan bahwa bentuk ajakan melakukan perilaku menyimpang tetap terjadi dalam lingkungan sosial mereka, meskipun intensitasnya rendah.
Sementara itu 8,8% menjawab Ya, menunjukkan adanya siswa yang secara langsung pernah mendapatkan pengaruh buruk dari teman dekatnya. Bahkan 3,5% siswa mengaku Sering diajak melakukan hal yang tidak baik, yang menandakan bahwa kelompok kecil ini rentan terhadap tekanan teman sebaya (peer pressure).
Kesimpulan kecil:
Pergaulan sebaya masih memiliki potensi mengarahkan siswa ke perilaku menyimpang, meskipun mayoritas siswa tidak mengalaminya secara langsung.
2. Saya tahu pergaulan bebas dapat berdampak buruk bagi masa depan.
Hasil data:
91,5% menjawab Ya
5% menjawab Sering
2,8% menjawab Kadang-kadang
0,7% menjawab Tidak
Catatan Analisis:
Mayoritas siswa memiliki kesadaran yang sangat tinggi mengenai ahaya pergaulan bebas, terbukti dari 91,5% siswa yang menjawab Ya. Kesadaran ini semakin diperkuat dengan adanya 5% siswa yang menjawab Sering, menandakan bahwa mereka sangat memahami konsekuensi jangka panjang dari pergaulan bebas seperti penyimpangan moral, penyalahgunaan narkoba, hingga permasalahan sosial.
Hanya 0,7% siswa yang menjawab Tidak, menunjukkan bahwa hampir tidak ada yang tidak menyadari bahaya tersebut. Hal ini dapat disebabkan oleh edukasi sekolah, penyuluhan guru BK, serta paparan informasi melalui internet dan media sosial.
Kesimpulan kecil:
Pengetahuan siswa tentang risiko pergaulan bebas sangat baik dan menjadi faktor pelindung (protective factor) bagi mereka.
3. Saya sering ikut-ikutan teman meskipun itu merugikan.
Hasil data:
75,4% menjawab Tidak
21,1% menjawab Kadang-kadang
4,2% menjawab Sering / Ya
Catatan Analisis:
Sebagian besar siswa (75,4%) tidak mudah mengikuti perilaku merugikan hanya karena pengaruh teman. Angka ini menunjukkan bahwa mayoritas siswa memiliki kemampuan kontrol diri yang kuat dan dapat membedakan mana perilaku yang baik dan buruk.
Namun demikian, 21,1% siswa menjawab Kadang-kadang, yang berarti cukup banyak siswa yang masih dapat terpengaruh dalam situasi tertentu.
Kelompok kecil (4,2%) menjawab Ya/Sering, yang menunjukkan adanya siswa yang rentan dan mudah terbawa arus kelompok. Kelompok ini memerlukan perhatian lebih dari guru, wali kelas, dan orang tua.
Kesimpulan kecil:
Sebagian besar siswa memiliki kemandirian sikap, namun ada sebagian yang masih dapat terbawa pengaruh buruk.
4. Saya merasa sulit menolak ajakan teman untuk melakukan hal yang salah.
Hasil data:
68,8% menjawab Tidak
17,3% menjawab Kadang-kadang
9,9% menjawab Ya
4% menjawab Sering
Catatan Analisis:
Data ini memperlihatkan bahwa mayoritas siswa (68,8%) mampu menolak ajakan yang berpotensi menjerumuskan mereka ke dalam perilaku negatif. Ini menunjukkan kemampuan asertif yang cukup baik.
Namun terdapat 17,3% siswa yang menjawab Kadang-kadang, yang menunjukkan bahwa mereka masih kesulitan menjaga pendirian ketika berada dalam tekanan kelompok.
Kelompok yang menjawab Ya dan Sering (13,9% total) menunjukkan tingginya kerentanan terhadap pengaruh teman sebaya. Mereka cenderung memiliki kecemasan sosial, kurang percaya diri, atau ingin diterima secara sosial.
Kesimpulan kecil:
Kemampuan menolak ajakan negatif umumnya baik, namun kelompok rentan tetap memerlukan pembinaan karakter dan pelatihan kemampuan asertif.
5. Saya lebih sering menggunakan handphone untuk hiburan daripada belajar.
Hasil data:
54.1% menjawab Kadang-kadang
22,9% menjawab Tidak
11,7% menjawab Ya
11,2% menjawab Sering
Catatan Analisis:
Penggunaan handphone sebagai sarana hiburan ternyata cukup tinggi. Mayoritas siswa (54%) menyatakan Kadang-kadang lebih sering memakai HP untuk hiburan. Ini menunjukkan bahwa mereka tetap terbagi antara hiburan dan belajar.
Namun angka 11,8% (Ya) dan 11,2% (Sering) menunjukkan bahwa 23% siswa cenderung lebih mengutamakan hiburan dibanding aktivitas belajar. Kelompok ini berisiko mengalami penurunan motivasi belajar dan performa akademik.
Sementara 22,9% menjawab Tidak, menandakan mereka masih menggunakan HP secara seimbang atau lebih terkontrol.
Kesimpulan kecil:
Pengaruh HP cukup dominan sebagai sumber hiburan dan dapat menggeser minat belajar pada sebagian siswa.
6. Media sosial membuat saya malas belajar.
Hasil data:
40,1% menjawab Tidak
30,7% menjawab Kadang-kadang
22,2% menjawab Ya
11,7% menjawab Sering
Catatan Analisis:
Media sosial memiliki dampak yang cukup signifikan terhadap motivasi belajar siswa. Walaupun 40,1% menyatakan Tidak, masih ada 30,7% yang Kadang-kadang merasa malas belajar akibat media sosial. Yang lebih mengkhawatirkan adalah 22,2% (Ya) dan 11,7% (Sering) sehingga total 33,9% siswa benar-benar terdampak oleh media sosial dan kehilangan semangat belajar. Ini menunjukkan bahwa media sosial telah menjadi salah satu faktor pengalih perhatian terbesar bagi siswa, melebihi pengaruh teman sebaya.
Kesimpulan kecil:
Media sosial memiliki pengaruh moderat hingga kuat terhadap motivasi belajar, terutama bagi kelompok yang cenderung kecanduan.
7. Saya pernah bolos karena diajak teman.
Hasil data rinci:
97,1% Menjawab Tidak
1,6% Menjawab Ya
1,1% Menjawab Kadang-Kadang
0,3% Menjawab Sering
Catatan Analisis:
Frekuensi bolos sekolah akibat ajakan teman berada pada tingkat yang sangat rendah, dengan total hanya 3,0% responden yang mengakui pernah bolos (1,6% Ya, 1,1% Kadang-kadang, dan 0,3% Sering). Angka ini, yang mendekati nol, menunjukkan bahwa pengaruh negatif teman sebaya yang mengarah pada tindakan pelanggaran berat seperti bolos tidak signifikan di kalangan populasi siswa yang disurvei. Hal ini mengindikasikan bahwa sebagian besar siswa memiliki tingkat disiplin yang sangat tinggi dan ketahanan yang kuat terhadap tekanan teman sebaya untuk melanggar aturan sekolah.
Kesimpulan Kecil:
Perilaku bolos yang dipicu oleh ajakan teman sebaya sangat jarang terjadi, menegaskan komitmen tinggi siswa terhadap kehadiran dan disiplin.
8. Saya berusaha menaati semua peraturan sekolah.
Hasil data:
91,7% menjawab Ya
6,1% menjawab Sering
1,6% menjawab Kadang-kadang
0,5% menjawab Tidak
Catatan Analisis:
Mayoritas siswa (91,7%) mengaku selalu berusaha menaati peraturan sekolah, yang mencerminkan tingkat kedisiplinan yang sangat tinggi. Persentase “Sering” sebesar 6,1% juga menguatkan bahwa sebagian besar siswa tetap menunjukkan kepatuhan dalam aktivitas sehari-hari.
Kelompok kecil yang menjawab “Kadang-kadang” (1,6%) dan “Tidak” (0,5%) menunjukkan adanya sedikit ketidakkonsistenan, namun jumlah ini sangat kecil dan tidak memengaruhi gambaran umum.
Secara keseluruhan, pola data ini menandakan bahwa peraturan sekolah diterapkan dengan baik dan diterima secara positif oleh siswa.
Kesimpulan kecil:
Kepatuhan siswa terhadap peraturan sekolah berada pada level sangat baik, dengan lebih dari 97% siswa berada dalam kategori patuh.
9. Saya pernah diajak mencoba minuman keras atau obat-obatan terlarang.
Hasil data:
98,1% menjawab Tidak
1,6% menjawab Ya
0% menjawab Sering
0,3% menjawab Kadang-kadang
Catatan Analisis:
Data ini menunjukkan bahwa paparan siswa terhadap minuman keras atau obat-obatan terlarang sangat rendah. Dengan 98,1% menjawab “Tidak”, mayoritas siswa berada dalam lingkungan pergaulan yang aman dan tidak berisiko.
Namun, adanya 1,6% yang menjawab “Ya” dan 0,3% “Kadang-kadang” tetap perlu diperhatikan karena menunjukkan bahwa sebagian kecil siswa pernah mengalami ajakan menuju perilaku berbahaya.
Meskipun kecil, angka ini menandakan bahwa risiko pergaulan bebas tetap ada dan perlu dicegah melalui edukasi berkelanjutan.
Kesimpulan kecil:
Paparan siswa terhadap ajakan mengonsumsi zat terlarang sangat minim, namun kelompok kecil yang pernah diajak tetap memerlukan pemantauan dan bimbingan.
10. Saya tahu bahwa minuman keras dan obat-obatan terlarang berbahaya bagi kesehatan.
Hasil data:
96,3% menjawab Ya
0,8% menjawab Sering
2,9% menjawab tidak
Catatan Analisis:
Mayoritas besar siswa (96,3%) dan (0,8%) memahami bahwa minuman keras dan obat-obatan terlarang merupakan hal yang berbahaya bagi kesehatan. Ini menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan siswa mengenai bahaya penyalahgunaan zat berada pada kategori sangat baik.
Sisa 2,9% mengindikasikan bahwa masih ada sebagian kecil siswa yang perlu mendapatkan penjelasan lebih mendalam tentang risiko kesehatan dan dampak jangka panjang dari zat berbahaya tersebut
B. Pembahasan Mendalam
1. Kesadaran Siswa terhadap Dampak Pergaulan Bebas
Berdasarkan hasil penelitian, sebagian besar siswa sudah mengetahui bahwa pergaulan bebas dapat membawa dampak buruk bagi masa depan, seperti menurunnya prestasi belajar dan masalah perilaku. Hal ini menunjukkan bahwa siswa telah mendapatkan informasi yang cukup baik dari sekolah, keluarga, maupun lingkungan sekitar.
Namun, meskipun sudah mengetahui dampaknya, masih ada beberapa siswa yang tetap terpengaruh oleh lingkungan pergaulan.
2. Peran Media Sosial dalam Pergaulan Bebas
Media sosial menjadi salah satu faktor yang cukup berpengaruh terhadap perilaku siswa. Penggunaan media sosial yang berlebihan dapat membuat siswa menjadi malas belajar dan lebih tertarik pada hiburan.
Selain itu, media sosial juga dapat memperluas pergaulan siswa tanpa batas yang jelas. Jika tidak digunakan dengan bijak, media sosial dapat menampilkan contoh perilaku negatif yang kemudian ditiru oleh siswa.
3. Peran Sekolah dan Keluarga dalam Mengarahkan Siswa
Sekolah dan keluarga memiliki peran penting dalam mencegah pergaulan bebas. Sekolah melalui peraturan dan kegiatan pembinaan dapat membantu siswa belajar disiplin dan bertanggung jawab.
Keluarga juga berperan sebagai tempat utama dalam menanamkan nilai moral. Dukungan dan perhatian orang tua dapat membantu siswa lebih berhati-hati dalam memilih teman dan mengelola waktu belajar.
BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pergaulan bebas dan lingkungan memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap perilaku dan kehidupan siswa. Lingkungan pertemanan menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi sikap siswa, baik ke arah positif maupun negatif. Siswa yang berada dalam pergaulan yang baik cenderung memiliki perilaku yang lebih disiplin dan bertanggung jawab.
Selain itu, media sosial juga berperan dalam memengaruhi pola pergaulan siswa. Penggunaan media sosial yang berlebihan dapat mengurangi motivasi belajar dan membuka peluang terjadinya pergaulan bebas jika tidak dikendalikan dengan baik. Meskipun sebagian besar siswa sudah mengetahui dampak negatif pergaulan bebas, pengetahuan tersebut belum sepenuhnya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sekolah, keluarga, dan lingkungan memiliki peran penting dalam mencegah pengaruh pergaulan bebas. Peraturan sekolah, pengawasan, serta pembinaan yang baik dapat membantu siswa mengendalikan perilaku. Dukungan dan perhatian dari keluarga juga sangat dibutuhkan agar siswa mampu memilih pergaulan yang sehat dan positif.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pencegahan pergaulan bebas memerlukan kerja sama antara siswa, sekolah, keluarga, dan lingkungan sekitar agar siswa dapat tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan berakhlak baik.
B. SARAN
Untuk mewujudkan ketercapaian pembentukan karakter remaja melalui pengaruh pergaulan dan lingkungan yang positif, maka perlu kiranya untuk mempertimbangkan saran konstruktif bagi:
1. Orang Tua Remaja, sebagai pengasuh utama dalam keluarga, diharapkan terus memantau serta menjaga komunikasi yang baik dengan anak. Orang tua perlu memberikan arahan khusus dan contoh nyata mengenai perilaku positif secara berkala, sehingga remaja mampu memilih pergaulan yang sehat dan menjauhkan diri dari pengaruh negatif yang dapat merusak karakternya. Dengan demikian, proses pembentukan karakter melalui lingkungan keluarga dapat berkembang lebih optimal.
2. Sekolah, sebagai lembaga pendidikan yang berperan besar terhadap perkembangan karakter remaja, diharapkan selalu meningkatkan kedisiplinan, menanamkan nilai moral, serta memperbanyak program kegiatan yang mendorong perilaku positif. Program pembinaan seperti layanan konseling, ekstrakurikuler, dan pendidikan karakter perlu dirancang secara terarah dan dievaluasi secara berkala agar berdampak signifikan dalam membentuk karakter remaja yang mandiri dan bertanggung jawab.
3. Remaja, sebagai individu yang sedang berkembang dan mencari jati diri, hendaknya lebih selektif dalam memilih teman pergaulan, meningkatkan kedisiplinan dalam mengikuti kegiatan yang bermanfaat, serta senantiasa memotivasi diri untuk terus memperbaiki perilaku ke arah yang lebih baik. Remaja juga diharapkan tidak mudah terpengaruh hal-hal negatif dari lingkungan dan mampu mengembangkan potensi diri sesuai minat dan bakat sebagai bekal menghadapi masa depan.
4. Masyarakat dan Lingkungan Sosial, sebagai ruang interaksi remaja, diharapkan dapat mendukung terciptanya kondisi lingkungan yang aman, tertib, dan penuh nilai positif. Masyarakat hendaknya memberikan teladan yang baik dan meningkatkan kepedulian antar sesama, agar dapat membantu menumbuhkan karakter remaja yang berakhlak baik serta mampu beradaptasi dengan lingkungan secara sehat.
DAFTAR PUSTAKA
Sarwono, Sarlito Wirawan, 2010, “Psikologi Remaja-Sarlito Wirawan”, www.rajagrafindo.co.id, 9 November 2025,
https://www.rajagrafindo.co.id/produk/psikologi-remaja/
Sudarsono, 2015, “Pendidikan Karakter: Konsep dan Implementasi”, 9 November 2025, PT RajaGrafindo Persada.
Kementerian Kesehatan RI. (2019). “Pedoman Kesehatan Remaja” Diakses pada 9 November 2025, https://repository.kemkes.go.id/book/166
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. (2020). “Panduan Pengembangan Karakter Siswa, hlm. 30”, Diakses pada 9 November 2025,
Marzuki, M. (2012). Pengintegrasian pendidikan karakter dalam pembelajaran di sekolah. Jurnal Pendidikan Karakter, 20, Diakses pada 9 November 2025
Sudrajat, S. W. (2016). Implementasi Pendidikan Karakter di Smp Negeri 2 Klaten dan Mts. Wahid Hasyim Yogyakarta. JIPSINDO, 3(1), Diakses pada 16 November 2025
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. (2020). Panduan Pengembangan Karakter Siswa. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Diakses pada 16 November 2025.
Sudrajat, S. W. (2018), artikel Peran teman sebaya dalam pembentukan karakter siswa Madrasah Tsanawiyah (SOCIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial, 15(2), 149-163), www.researchgate.net, diakses pada 16 November 2025, https://www.researchgate.net/publication/339572020_Peran
Tianingrum, N. A., & Nurjannah, U. (2020) melalui Pengaruh Teman SebayamTerhadap Perilaku Kenakalan Remaja Sekolah Di Samarinda, Jumal Dunia Kesmas, 8(4), 275-282, diakses pada 16 November 2025,
https://ejurnalmalahayati.ac.id/index.php/duniakesmas/article /view/275-282/0
Darmawan, S. (2018) dalam Pendidikan karakter remaja berbasis lingkungan (Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 24(1), 101-114), diakses ada 16 November 2025
Zuchdi, D. (2009) dalam Pendidikan Karakter: Konsep Dasar dan Implementasi, diakses pada 16 November 2025
