Antara Rumus Peluang dan Kemenangan
Angin sore berhembus pelan di lapangan basket SMP Negeri 1 Jatiroto. Di tepi lapangan, Aris, Rendy, dan Bagas duduk selonjoran sambil mengelap keringat. Botol minuman plastik kosong berserakan, sama seperti tenaga mereka yang terkuras setelah latihan basket untuk turnamen antarsekolah.
“Gila, makin dekat hari H, latihan makin kayak siksaan ya,” keluh Rendy sambil memijat betisnya.
Aris terkekeh. “Ya namanya juga mau juara. Kamu mau kita kalah telak lagi kayak tahun lalu? Malu-maluin sekolah kita, Ren.”
Bagas, yang sedari tadi diam, tiba-tiba menghela napas panjang.
“Masalahnya bukan cuma latihan, Ris. Aku… aku kepikiran nilai matematika aku. Bu Rina bilang kalau nilaiku nggak naik, aku nggak boleh ikut tanding lagi.”
Rendy dan Aris saling pandang. Mereka tahu betul, matematika adalah musuh terbesar Bagas selain shooting tiga angka yang sering meleset.
“Serius, Gas? Terus gimana?” tanya Rendy khawatir.
“Aku bingung. Mana besok ada ulangan harian bab peluang lagi,” jawab Bagas lesu.
Aris menepuk bahu Bagas keras-keras.
“Tenang. Malam ini kita kumpul di depan sekolah, di warung Bu Nur yang biasa. Kita belajar bareng.”
“Hah? Kamu mau ngajarin aku, Ris? Kamu kan juga pas-pasan nilainya,” celetuk Bagas yang langsung disambut tawa oleh Rendy.
“Sembarangan! Gini-gini aku udah paham dikit. Lagian, kita kan bertiga. Kalau satu jatuh, yang lain narik. Itu gunanya persahabatan kita, kan?” ujar Aris penuh percaya diri.
Malam itu, di bawah lampu jalan yang temaram di teras rumah Aris, mereka bertiga berkutat dengan buku cetak dan coretan kertas.
Aris mencoba menjelaskan dengan gaya sok tahu tapi benar.
“Nah, kalau peluangku buat lulus dari SMP ini berapa, Ris?” canda Rendy.
“Satu banding sejuta kalau lo main HP terus!” sahut Bagas, yang mulai terlihat lebih ceria.
Duka datang dua hari kemudian. Saat pengumuman nilai, Bagas tertunduk lesu. Nilainya memang naik, tapi hanya pas-pasan di banding teman-temannya. Bu Rina sempat ragu mengizinkannya ikut turnamen. Di saat itulah, Aris dan Rendy memberanikan diri menghadap ke ruang guru.
“Bu, kami janji akan dampingi Bagas belajar setiap hari setelah latihan. Tolong izinkan dia main, Bu. Tim kami nggak lengkap tanpa dia,” mohon Aris dengan wajah serius.
Bu Rina menatap ketiga muridnya itu.
“Kalian sadar konsekuensinya? Kalau nilai Bagas turun lagi di ujian tengah semester, kalian semua saya skors dari ekstrakurikuler.”
Rendy menjawab tanpa ragu, “Siap, Bu. Kami bertekat akan menanggung suka dan duka bersama.”
Hari turnamen tiba. Gaungnya membuat pertandingan SMPN 1 Jatiroto disambut sangat meriah. Sorak-sorai siswa membahana. Di kuarter terakhir, skor sangat tipis. Bagas memegang bola di detik-detik akhir. Dia ragu.
“Tembak, Gas! Percaya sama diri kamu sendiri!” teriak Rendy dari pinggir lapangan.
“Ingat rumus peluang, Gas! Peluang kamu masukkan bola ini besar!” seru Aris sambil menjaga lawan.
Bagas menarik napas, melompat, dan melepaskan bola. Swish! Bola masuk tepat saat bel berbunyi.
Lapangan pecah dalam kegembiraan. Teman-teman mereka menyerbu ke tengah lapangan. Aris, Rendy, dan Bagas berpelukan erat, tidak peduli dengan keringat yang bercampur. GOR Wira Bhakti langsung meledak. Sorak-sorai suporter dari Spensaja membahana. Para pemain lawan tertunduk lesu. Rendy dan Aris berlari mengerubuti Bagas yang masih terpaku, tidak percaya dengan apa yang baru saja dilakukannya. Mereka bergulingan di lapangan, menangis dan tertawa bersama. Mereka juara!
“Waaahh aku nggak nyangka, Ris… Rendy… makasih ya,” bisik Bagas haru.
“Jangan melow dulu, habis ini kita harus ngerjain tugas IPA yang numpuk,” kata Rendy sambil tertawa lebar.
“Duh, baru juga mau senang sebentar, sudah diingatkan lagi sama tugas-tugas yang seabrek!” keluh Bagas.
Rendy dan Aris tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Bagas yang seketika berubah masam saat diingatkan tugas seabrek yang belum disentuhnya.
Di SMPN 1 Jatiroto, mereka belajar bahwa persahabatan bukan hanya tentang tertawa bersama saat menang, tapi tentang saling memikul beban saat salah satu dari mereka yang hampir menyerah. Suka dan duka adalah bumbu yang membuat masa-masa di SMP tak kan pernah terlupakan.
